Translate

Saturday, May 24, 2014

Cara penanganan Hama di tambak udang Vannamie


Seperti telah dijabarkan pada post sebelumnya, ada banyak jenis hama dalam budidaya udang Vannamei. Pada post ini akan diuraikan cara-cara penangganannya, antara lain dengan mengunakan:
  • Saponin
Saponin adalah racun dari bungkil biji teh, dengan dosis 150-200 kg bungkil biji teh untuk per ha tambak akan dapat secara efektif membunuh ikan - ikan buas, dan karena racun saponin bereaksi 50 X lebih kuat terhadap ikan daripada terhadap udang, maka saponin akan meracuni dan memberantas ikan-ikan ditambak, tanpa mempengaruhi udang yang di pelihara.
Perlu di ingat bahwa pada air dengan salinitas rendah maka kekuatan racun saponin akan berkurang. Dosis pemberian saponin adalah antara 150-200 kg, tetapi pada pengaplikasiannya dapat dikurangi dengan cara mengurangi tinggi air di dalam kolam.
Cara pengaplikasian:
Bungkil teh ditumbuk hingga menjadi bubuk, kemudian direndam dalam air semalaman, kemudian pada saat tengah hari antara pukul 12.00-13.00 (waktu paling efektif), air rendaman dipercik-percikan kedalam tambak dengan keadaan kincir di tambak dihidupkan, agar saponin dapat merata ke semua bagian tambak. Jika air tambak dikurangi ketingiannya, maka air tambak dapat dinaikan lagi ketingiannya setelah 6 jam. Kekuatan racun saponin akan berangsur-angsur hilang dalam waktu 2-3 hari, dan endapan bubuk bungkil teh dapat menambah kesuburan tambak, maka tidak diperlukan pengantian air tambak.
  • Rotenon
Rotenon adalah racun yang terdapat pada akar tuba (deris), biasanya kandungannya antara 5-8%, tergantung besar kevil nya akar, karena semakin kecil akarnya, maka semakin tinggi kadar rotenonnya. Bertolak belakang dengan racun saponin yg bereaksi lebih kuat pada salinitas yg lebih tinggi, sedangkan rotenon bereaksi lebih kuat pada salinitas rendah.
Perlu diperhatikan, daya tahan udang terhadap rotenon tidak jauh beda dengan daya tahan ikan terhadap rotenon. Jadi pemakaiannya harus sangat hati-hati. Dan tidak disarankan untuk digunakan pada saat pembesaran udang berlangsung. Pengunaan rotenon biasa pada saat pengolahan dasar tanah disistem semi intensif, setiap dimulainya siklus.
Cara pengaplikasian:
Akar Tuba dipotong kecil-kecil lalu direndam dalam air hingga 24 jam lamanya, setelah direndam akar tadi tumbuk hingga hancur dan dimasukan dalam air sambil diperas hingga air berwarna putih seperti santan. Racun rotenon akan hilang dengan sendirinya setelah 4 hari.
  • Nikotin
Nikotin adalah zat yang terdapat pada tembakau, ternyata dapat menberantas ikan - ikan liar dan buas serta siput, dengan dosis nikotin 12 - 15 kg/ha atau sekitar 200 - 400 kg/ha dari sisa - sisa tembakau.
Perlu diperhatikan pengunaan nikotin dipakai hanya pada saat pengolahan lahan dan saat dimulainya siklus baru.
Cara pengaplikasiannya:
Tanah dasar tambak yang sudah dikeringkan diisi air dengan ketinggian ± 10cm, kemudian sisa tembakau ditebarkan kedalam  tambak. dan biarkan hingga air menguap sampai habis ± 7 hari. Karena kadar nikotin dari tembakau setelah 2-3 hari akan ternetralisir dengan sendirinya, maka setelah penguapan air selama ± 7 hari tambak dapat langsung diisi air dan siap untuk memulai siklus baru, tanpa harus mengangkat sisa daun tembakau, sebab sisa tembakau akan berfungsi sebagai pupuk.
  • Brestan
Brestan biasa digunakan untuk pemberantasan trisipan atau siput, tetapi ada cara yg lebih alami untuk memberantas trisipan, yaitu dengan menggunakan bubuk tembakau yang mengandung kadar nikotin 3%. .
Perlu diperhatikan,  bahwa jika terdapat sumber air tawar di daerah tempat pembudidayaan,  maka pemberantasan hama trisipan dapat dilakukan dengan mengunakan air tawar dengan cara melakukan perendaman selama 1 minggu. Trisipan tidak dapat hidup pada kadar amonia tinggi, sehingga pengunaan pupuk amonium sulfat juga dapat memberantas trisipan.
Cara pengaplikasiannya:
Sama seperti pengaplikasian Nikotin di atas.
  • Sekam padi
Kepiting termasuk hama predator, sekam padi dapat digunakan untuk memberantas hama kepiting, selain dari menangkap dan membunuhnya. Walaupun ada sebagian dari petambak yang mengunakan bahan kimia.
Cara pengaplikasiannya:
Sekam padi ditumbuk/dihaluskan, lalu sekam padi ditaburkan kedalam lubang-lubang yang menjadi rumah kepiting. Gunanya selain untuk mengusir kepiting pindah ketempat lain, adalah agar sekam - sekam halus tadi dapat melekat pada insang kepiting dan membunuh kepiting itu sendiri.
Demikianlah cara-cara penangganan hama-hama pada tambak udang Vannamei.

Semoga berguna untuk kita.



Daftar Pustaka

Agromaret (2011), "Hama dalam budidaya udang windu", http://agromaret.com/artikel/359/hama_dalam_budidaya_udang_windu , dilihat pada tanggal 01 Mei 2014

Crayonpedia (ud), "Bab VIII. Hama dan penyakit ikan", http://www.crayonpedia.org/mw/BAB_VIII._HAMA_DAN_PENYAKIT_IKAN , dilihat pada tanggal 15 Mei 2014

Fahmi, (2000), "Beberapa jenis ikan pemangsa di tambak tradisional dan cara penanganannya", Oseana, Volume XXV no. 1, 2000.

Panggabean M., Silitonga F., Sianturi G., (2009), "USAHA TAMBAK UDANG WINDU" Program Studi Manajemen Hutan, Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Prasetio A.B., Albasri H., Rasidi (ud), "Perkembangan budidaya bandeng di pantai utara Jawa Tengah", Pusat riset perikanan budidaya.

Prihatman K., (2001), "SAPONIN UNTUK PEMBASMI HAMA UDANG",  Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

PT Suri Tani Pemuka (2009), "Soal Klekap dan Trisipan di Tambak Bandeng", http://trobos.com/show_article.php?rid=17&aid=1802 dilihat pada tanggal 06 Mei 2014

Sentra Informasi IPTEK (ud), "Budidaya udang windu", http://www.iptek.net.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=3&doc=3b1 , dilihat pada tanggal 09 Mei 2014





Saturday, April 26, 2014

Penyebab kegagalan dalam budidaya udang Vannamei

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan kegagalan dalam budidaya udang Vannamei, secara garis besar pengelompokan penyebab kegagalan dapat dibagi 2 kelompok, yaitu: Hama dan Penyakit udang.

Hama udang

Menurut Herlina (2004), Hama adalah organisme pengganggu yang dapat mempercepat berkurangnya jumlah udang yang dipelihara dalam waktu singkat. Dan Hama dapat dibagi menjadi 3 macam:
1. Hama predator.
     Hama predator adalah hama pemangsa udang, seperti Ikan kakap, Ikan keting, kepiting, burung dan ular
2. Hama kompetitor.
     Hama kompetitor adalah hama pesaing yang akan bersaing dengan udang, dalam hal kepadatan tempat hidup, makanan dan oksigen (O2). seperti Ikan mujair, udang kecil, siput dan lkan belanak.
3. Hama perusak.
     Hama perusak adalah hama yang tidak menyaingi dan memangsa udang, tetapi hama ini dapat merusak kondisi lingkungan tempat hidup udang, sehingga pematang, dasar tambak, saluran dan pintu air dapat rusak. Hama perusak seperti: belut, kepiting, dan udang tanah.

Penyakit udang.

Penyakit adalah perubahan dari kondisi normal atas morfologi, struktur organ serta keadaan fisik dari udang, sehingga  mengakibatkan gangguan pada fungsi organ tersebut.

Pengelompokan penyakit udang berdasarkan penyebabnya.
Berdasarkan penyebabnya penyakit pada udang dapat di kelompokan menjadi dua, yaitu:
1. Penyakit non infektif (non infectious disease)
Penyakit non infektif adalah penyakit yang timbul karena faktor - faktor seperti:
- Kepadatan tebar
- Lingkungan media air (temperatur, kadar oksigen, salinitas dan PH)
- Mutu pakan yang diberikan
- Obstruksi insang
- Pengunaan bahan kimia
- Polusi
- Biotoksin (mitotoksin, toksin zooplankton, algea dan dari tumbuhan)
2. Penyakit Infektif (infectious disease).
Penyakit infektif adalah penyakit yang disebabkan oleh
- jamur
- parasit
- bakteri
- virus.

Pengelompokan penyakit udang berdasarkan jenisnya.
Namun jika penyakit dikelompokan berdasarkan jenisnya, maka penyakit akan terkelompok menjadi
1. Penyakit Internal
Penyakit internal, menurut Yuasa, dkk (2003), adalah penyakit genetik, imunodefisiensi, metabolik, sekresi internal dan syaraf.
2. Penyakit eksternal
Penyakit ekternal terbagi menjadi dua, yaitu:
- Penyakit non patogen adalah penyakit non infektif, dapat disebabkan oleh lingkungan dan nutrisi
- Penyakit patogen dapat disebut juga sebagai penyakit Infektif, dan dapat dikelompokan menjadi empat kelompok, yaitu:
● Penyakit Viral, disebabkan oleh virus
● Penyakit jamur
● Penyakit bakterial, disebabkan oleh bakteri
● Penyakit parasit.

Ulasan mengenai Hama dan Penyakit udang ada di rinci pada post-post yang akan datang.

Daftar Pustaka

Herlina N., (2004), "Pengendalian Hama dan Penyakit pada pembesaran udang", Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan.

Hermawan D., (2014), "Monitoring kesehatan larva udang vannamei (Litopenaus Vannamei) di PT. Suri Tani Pemuka (STP) unit hatchery Banyuwangi, Desa Selogiri, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur", Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan Akademi Perikanan Sidoarjo.

Wibisono T. H., (2011), "Penyakit Udang!!!", http://tigor46.blogspot.com/2011/09/penyakit-udang.html

Friday, April 11, 2014

Budidaya udang Vannamei dengan sistem Supra Intensif

Budidaya Vannamei dengan sistem Supra intensif adalah sebuah inovasi karya anak bangsa Indonesia, yaitu Dr. Hasanuddin Atjo, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tengah, beliau juga mengetuai Shrimp Club Indonesia Sulawesi, melalui Inovasi dalam pembudidayaan udang Sistem Supra intensif beliau berhasil meningkatkan kepadatan tebar dari yang hanya 100-200 ekor/m2 pada budidaya sistem semi-intensif dan 400-500 ekor/m2 pada budidaya sistem intensif, menjadi 1.000 ekor/m2 dengan hasil produksi mencapai 15,3 ton/1.000 m2. Ini adalah hasil budidaya udang Vannamei tertinggi di dunia, yang mana rekor sebelumnya dipegang oleh Meksiko dengan hasil 11,1 ton/ 1.000 m2, sedangkan China hanya menghasilkan 9 ton/ 1.000 m2. Hasil Inovasi ini sedang direkomendasikan oleh Prof Rokhmin Dahuri MS., Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia, agar dapat dicatat di dalam MURI. Dan atas keberhasilannya ini, Dr. Hasanuddin Atjo mendapatkan gelar technopreuner dalam sektor kelautan dan perikanan.

Menurut Dr. Hasannudin Atjo yang biasa dipanggil Atjo, terdapat 5 (lima) hal yang harus di mengerti dan dilaksanakan secara konsisten dalam mengimplementasikan budidaya sistem Supra Intensif, yaitu:

  • Pemilihan Benih yang berkualitas. 
Memilih supplier yang memiliki benih yang berkualitas dengan cara mempelajari Standar Operation Procedure (SOP) yang dilakukan dengan konsisten, karena dengan SOP yang benar akan dapat mengetahui asal usul induk dan adanya pencatatan mengenai benih Sejak masih berupa nauplius sampai menjadi PL (Post Larvae), PL10- PL 12 (usia 20 hari sejak menetas) serta menseleksi benih dengan metodologi kuantitatif untuk dilakukan pengetesan nilai mutu di laboratorium milik pemerintah atau lembaga yang terakreditasi.

  • Kesehatan udang dan lingkungan sekitar.
Kesehatan udang selama pemeliharaan adalah sangat penting, karena penyebab penyakit adalah patogen (organisme seperti Bakteri, Parasit, Cendawan serta Virus). Dan agar udang tidak mudah terserang penyakit, lingkungan budidaya udang harus dibuat nyaman sehingga udang tidak stress. Karena jika dirumuskan menjadi rumus matematika maka 

Penyakit = udang+Patogen+ (lingkungan kuardrat)

Jadi pengendalian lingkungan termasuk pengendalian bahan organik sangatlah berperan, karena selain membuat udang merasa nyaman, pengendalian lingkungan juga mengendalikan berkembangnya Patogen.
 
Ada 3 hal yang harus diperhatikan yaitu:

a. Bahan Organik
Perlu diketahui bahwa bahan organik dapat bersumber dari: 
- media air dari laut, sehingga pengendapan dan filtersisasi sangat diperlukan.
- Sisa pakan yang tertimbun didasar tambak, ini biasa terjadi karena pemberian pakan yang berlebihan, oleh karena itu jadwal dan jumlah pemberian pakan harus terprogram, serta mengunakan pakan yang berkualitas baik sehingga tidak mudah larut dalam air.
- Bangkai udang dan plankton mati yang mengendap didasar kolam.
- Fases atau kotoran udang yang dapat mencapai 30% dari pakan yang termakan.

Bahan-bahan organik harus diminimalkan agar tidak menjadi H2S (asam belerang) dan NH3 (amoniak) yang dapat meracuni udang serta dapat menjadi media bagi Patogen untuk berkembang. Perlu diperhatikan bahwa pemberian bakteri bioflok dapat menyebabkan perebutan oksigen antara udang dan bakteri bioflok.

b. Temperatur harus stabil antara siang dan malam dengan maksimal perbedaan 1,5ºC. agar udang tidak stress dan metabolismenya terjaga.

c. Membuat media budidaya menjadi homogen atau kondisi media air sama diseluruh kolam, sehingga tidak terjadi penumpukan udang di titik-titik tertentu dan udang dapat menempati kolam secara merata.

  • Penerapan teknologi
Seperti yang telah diuraikan pada point 2, teknologi sangatlah berperan penting sebagai pengendalian lingkungan untuk menimbulkan rasa nyaman untuk udang.

Ada 3 (tiga) indikator yang harus diperhatikan yaitu:
a. Bahan Organik tidak boleh lebih dari 100 ppm.
Untuk menjaga agar bahan organik tetap dibawah 100 ppm, maka pembuangan limbah organik padat harus dilakukan setiap enam jam, secara mekanis melalui sistem central drain serta pengantian air sebanyak 5%-10% secara periodik dilakukan setiap hari untuk membantu mengurangi kadar bahan organik dan Zat beracun yang terlarut didalam air.Limbah padat ini dapat diproses untuk menjadi bahan baku kompos.

b. Kadar Oksigen minimal 3 ppm dengan catatan yang perlu diperhatikan adalah kebutuhan oksigen untuk udang sebesar 70% atau sebesar 2,1 ppm.
Dengan berkurangnya bahan organik padat maka secara otomatis konsentrasi bakteri bioflok juga akan berkurang sehingga porsi kadar oksigen akan lebih banyak untuk udang. Serta untuk meningkatkan kadar Oksigen didalam air, maka pengunaan kincir air dengan kombinasi blower dan turbo jet adalah mutlak dilakukan. 

c. Temperatur harus dijaga dalam kisaran 29º C- 30,5ºC.
Blower juga berfungsi untuk menstabilkan temperatur didalam kolam, agar temperatur siang dan malam tidak terselisih lebih dari 1,5º C.

  • Sarana dan prasarana yang terstandarisasi
Untuk dapat berhasil menjalankan sistem supra intensif, maka konstruksi tambak harus mengikuti standarnya, yaitu:

a. Luasan tambak berkisar antara 400 m2-1600 m2 dengan kedalaman 2,5 m-3m dapat berbentuk segi     empat ataupun lingkaran.

b. Bagian dalam dan dasar tambak harus dilapisi beton atau plastik khusus High Density Polyethylene (HDPE) dengan ketebalan 0,7-1mm, agar tidak terjadi rembesan dari luar kolam, serta untuk mempermudah memutar air yang bertujuan untuk memusatkan bahan organik dengan sempurna ke Central Drain.

c. Standar Kincir, blower dan Turbo jet adalah 2 HP/ton biomassa udang. Dan sebagai acuan biomassa adalah per 1.000 m2 tambak dengan kedalaman 3 m dapat menampung 10 ton biomassa udang. Sehingga untuk tambak 1.000 m2 dengan kedalaman 3 m dibutuhkan energi sebesar 20 HP dan jika biomassa udang sudah hampir mencapai 10 ton, maka pemanenan partial wajib dilakukan. Dalam setiap siklus budidaya biasa dilakukan panen partial sebanyak 3-4 kali.

  • Manajemen modern.
Manajemen berbasis teknologi harus diterapkan dalam sistem budidaya supra intensif  untuk mengendalikan resiko yang dapat terjadi, antara lain:

a. Genset Otomatis, yang dapat berjalan secara otomatis pada saat terjadi pemadaman listrik dari PLN.

b. Automatic Feeder, pemberian pakan secara otomatis dan terprogram baik frekwensi pemberian pakan dan jumlah pakan yang diberikan dengan dilontarkan dalam sehari-semalam. Dengan mengunakan Automatic Feeder, maka nilai konversi pakan (FCR) dapat di tekan hingga mencapai kisaran 1,34 yang artinya 1,34 kg pakan dibutuhkan untuk menghasilkan1 kg udang.

c. Alat-alat ukur digital, untuk mengukur kualitas air seperti tingkat keasaman (PH), kadar oksigen, dan kadar amoniak secara berkala.

Dalam pengendalian limbah pada tambak supra intensif, seperti telah disebutkan diatas, bahwa limbah padat dapat diolah untuk menjadi bahan baku ikan nila dan kompos. Sedangkan air limbah dapat dialirkan ke tambak berisi ikan bandeng, rumput laut jenis gracillaria dan kerang-kerangan. Jadi pembudidayaan udang dengan sistem Supra Intensif sangat disarankan untuk memfasilitasi tambaknya dengan pengelolahan limbah (IPAL) agar menjadi tambak Supra Intensif berbasis BLUE ECONOMY.



Daftar Pustaka

Atjo H., (2014), " Tambak Vaname Supra Intensif Lima Subsistem Budidaya", http://www.agrina-online.com/redesign2.php?rid=10&aid=4813

Atjo H., (2013), "SULTENG MENGADOPSI TEKNOLOGI BUDIDAYA UDANG SUPRA INTENSIF", http://www.dkp.sulteng.go.id/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=235:sulteng-mengadopsi-teknologi-budidaya-udang-supra-intensif&catid=29:opini&Itemid=53

Malik I ., (2013), " Launching Panen Udang Supra Intensif di Barru", http://makassar.tribunnews.com/2013/10/20/launching-panen-udang-supra-intensif-di-barru

Radar sulteng, (2013), "Supra Intensif, Karya Emas Anak Bangsa Dilaunching", http://www.radarsulteng.co.id/index.php/berita/detail/Rubrik/41/10714

Trobos.com, (2013), " Tambak yang awalnya hanya mampu memanen 9 ton per 1.000 m2, bisa menjadi 15,3 ton per 1.000 m2", http://www.trobos.com/show_article.php?rid=13&aid=4019

Ujungpandang Ekspres (2013), " KKP Kembangkan Udang Supra Intensif", http://www.upeks.co.id/index.php/bisnis/jasa-dan-keuangan/item/6711-kkp-kembangkan-udang-supra-intensif

Rasa T.M., Listianingsih W., Palupi I.R., (2013), "Lebih Efisien dengan Supra Intensif", http://www.agrina-online.com/redesign2.php?rid=7&aid=4617




Friday, March 28, 2014

Budidaya udang Vannamei dengan teknologi Intensif

Budidaya udang Vannamei intensif memiliki porsi rasio lahan 4:6, yang artinya 40% diperuntukan untuk petak tandon dan 60% untuk petak pemeliharaan. Untuk budidaya secara intensif konstruksi tambak harus dipastikan kedap air dan tidak mudah longsor, serta memiliki pintu masuk dan keluar secara terpisah. Sehingga sangat disarankan untuk mengecor pematang dengan kemiringan/slope 45-60 derajat dan harus dibuat Central Drain yang berfungsi sebagai pengumpulan kotoran.


Sumber: www.djpt.kkp.go.id/index.../lokasi-desain-tambak.pdf/


Ciri-ciri tambak Intensif adalah sebagai berikut:
1. Air didalam tambak ttidak tergantung pada pasang surutnya air laut.
2. Petak tambak berbentuk teratur.
3. Ketinggian air didalam kolam lebih dari 1 meter.

Pada budidaya Vannamei sistem intensif , air didalam kolam harus mengalir cukup deras dengan arus air sebanyak 29-39 liter/ detik untuk setiap hektar tambak, sehingga harus mengunakan pompa. Sedangkan aerator dipergunakan untuk menambahkan kandungan oksigen di dalam air hingga mencapai kisaran 5-10 ppm.

Karena budidaya secara intensif termasuk budidaya dengan penerapan teknologi yang cukup maju. Hal penting yang harus kita perhatikan juga adalah kandungan gas di dalam tambak, karena banyaknya sisa pakan udang yang diberikan, kotoran udang dan bangkai plankton, dapat menghasilkan gas amoniak dan H2S  (Hidrogen Sulfida). Kadar Amoniak yang terbaik adalah dibawah 1 ppm, namun udang masih dapat mmtoleransi sampai batas atas 1,6 ppm. Wonderstone, Zeolite, dan Zeokapkan dapat ditaburkan guna menyerap gas beracun dan amoniak.

Pada budidaya sistem intensif menghasilkan limbah yang luar biasa, maka dapat menimbulkan masalah pada lingkungan sekitar,  seperti kerusakan ekosistem mangrove dan pencemaran air pada pesisir. Sehingga amat disarankan untuk mengunakan hanya 50% dari total lahan yang dikuasai sedang sisa lahan digunakan untuk pembudidayaan secara ekstensif/ tradisional, dengan demikian keseimbangan ekosistem dapat terjaga dan  pencemaran air dipesisir pantai dapat dicegah.Limbah dari tambak yang dikelola secara intensif sebagian besar adalah berasal dari pakan berbahan organik. Senyawa-senyawa yang terdapat dalam limbah adalah C (Carbon), N (Nitrogen), P (fosfor). Secara alami sebenarnya senyawa-senyawa tersebut dapat terurai dengan sendirinya, akan tetapi membutuhkan waktu yang cukup lama, sedangkan pengangkatan limbah dilakukan setiap kali siklus budidaya. Sehingga bakteri pengurai tidak sempat untuk mengurai limbah tadi.

Pada prinsipnya tambak dengan sistem intensif adalah mirip dengan tambak semi-intensif, yang membedakan adalah alat-alat penunjang yang dibutuhkan seperti pompa air dan aerator akan lebih banyak dibandingkan dengan Semi-intensif. Karena tingkat kepadatan tebar pada tambak intensif dapat mencapai 100-200 ekor/meter persegi jika diberikan pakan tambahan dedak halus. Sedangkan untuk penebaran benih dengan kkepadatan 300-400 ekor/meter persegi, maka makanan tambahan harus berupa pelet dengan kadar protein 25%. Juga perlu diingat bahwa kebutuhan oksigen harus disesuaikan dengan kepadatan tebar, dengan perhitungan standar bahwa dengan padat tebar 25-35 ekor/meter persegi, dibutuhkan oksigen larut sebanyak 5-10 ppm. dari sini jumlah aerator yang dibutuhkan dapat diketahui.

Ada beberapa obat yang dipakai pada tambak intensif, adapun beberapa macam obat/bahan penunjang yang biasa dipergunakan dalam tambak intensif litu adalah sebagai berikut:

  1. Tepung Batu Alam.
Tepung Batu Alam berfungsi untuk menetralisir zat-zat yang mengandung racun dan dapat berguna untuk menstabilkan kualitas air ditambak. Tepung Batu alam juga dapat mengembalikan kesuburan dasar tambak, sehingga Plankton (phytoplankton dan Zooplankton) dapat tumbuh dengan baik. Contoh Tepung Batu Alam yang tersedia di pasar antara lain: Wonder Zeolite, Natural Zeolite Wonderstone, Healthstone, dll. Dosis pengunaan tergantung pada kebutuhan. Untuk perbaikan lahan setelah panen, dosis yang dianjurkan adalah 500kg-l.000kg /ha, tetapi jika gunakan untuk penyerapan zat-zat beracun maka dosis yang diberikan untuk tambak dengan padat tebar 20 ekor/ meter persegi adalah sebesar 250kg- 500kg/ha dan dilakukan setelah 20-40 hari tebar, sedangkan untuk padat tebar 30 ekor/meter persegi diperlukan 500-1.000 kg/ha dilakukan antara hari ke 20-30.

     2.   Bakteri Pengurai

Bakteri Pengurai sangat penting diberikan pada tambak udang sistim intensif, seperti diketahui bahwa pada Tambak Intensif sisa pakan, kotoran udang, dan bangkai plankton yang tertimbun pada dasar tambak harus secepatnya diurai, dengan penambahan bakteri pengurai pada tambak, maka bahan organik akan terurai menjadi Siklus nitrogen dan Sulfur. Dipasar ada banyak merek bakteri pengurai, seperti: Aquazyme, Aqua Bacta Aid, Bacteri Natural 9 & 10, Soil Reformer, dll. Pada dasarnya, bakteri yang dibutuhkan adalah Aeromonas, Bacillu Subtilis, Nitrobacter, Cellulomonas, Nitromonas, dan enzym pengurai seperti: amylase, lifase, protease, hemicellulase, dan lactase. Bakteri pengurai harus diberikan secara rutin sesuai dengan dosis yang dianjurkan oleh masing masing pabrikan. Waktu pemberian bakteri ini jangan bersamaan dengan pengunaan bahan kimia, seperti: disinfektan, malachite green, potasium permanganat, antibiotik, coperin, formalin, bioiodine, dll, paling sedikit di berikan tengang waktu selama 5 hari.

    3.   Fungicide, Alagaecide & Baktericide.

Sering terjadi ganguan protozoa atau jamur dan juga bakteri pada tambak intensif, ganguan tersebut dapat terlihat dari tubuh udang yg tumbuh abnormal, seperti: sungut udang putus, kaki putus, insang berwarna hitam, kuning atau merah, bintik bintik hitam pada tubuh udang, ekor busuk, sampai dengan tubuh udang di tumbuhi lumut. Untuk mengobatinya, ada beberapa merek obat yg tersedia di pasar, antara lain: Bromo Sept. 50, Bioidine 2.000, Fabcide G-50, BKC 50, dll. Obat-obat tersebut dapat membasmi protozoa dan bakteri bahkan virus. Harus di perhatikan dosis pengunaannya pada masing-masing jenus merek obat yg tertera pada kemasannya. Jika pertumbuhan plankton berlebihan, maka sangat di sarankan untuk mengunakan obat yang bersifat Algaecide, contohnya Copperin dan Copper Control. Pemberian Algaecide pada tambak juga dapat merangsang udang untuk berganti kulit (moulting). Jika keadaan bertolak belakang, yaitu dimana pertumbuhan plankton sangat lambat, biasa terjadi pada tambak di lahan berpasir lebih dari 60% sehingga unsur haranya rendah, maka pemberian nutrien salt dengan dosis 2-3 ppm, seperti Algae Grow sangat diperlukan, atau dengan memberikan tepung ikan dengan dosis 5-10 kg/ha atau dengan memberikan urea serta TSP secukupnya.


   4.    Vitamin

Sama juga seperti manusia, udang juga membutuhkan vitamin untuk pertumbuhannya dan untuk kesehatannya agar tidak mudah di serang penyakit, terutama vitamin B & C. Stroner dan Prophepa adalah merek vitamin yang ada di pasaran. Pemberian vitamin dicampur pada pakan, 30-50 gr Stroner dicampur dengan 20 kg pakan udang, sedangkan untuk Prohepa di butuhkan 50-100 gr dicampur dengan putih telur ayam atau juice kerang agar dapat merekat, dan dicampur pada 20 kg pakan. Setelah dicampur, pakan harus dibiarkan selama 30 menit agar vitamin dapat meresap rata pada pakan sebelum di berikan pada udang. Ada pula beberapa macam vitamin lainnya yang dibutuhkan seperti Brightamin atau Anti Blue Color yang mengandung multivitamin dan Carateroid, yang dapat membantu proses Kromatofora (pembentukan pigmen pada tubuh udang) agar tubuh udang tidak biru. Untuk setiap 20 kg, dicampur dengan 30-50 gr Brightamin atau 100-200 gr Anti Blue Color yang telah dicampur dengan 10-20 butir putih telur, dan dibiarkan selama 20-30 menit sebelum diberikan pada udang. Dan untuk mencegah virus, seperti Virus Hepatopankreatic Pravo, Virus Midgut Gland Necrosis, dan Virus Monodon Baculo, dapat mengunakan Hepacidin yg mengandung antibiotik dan multivitamin, dengan dosis 100 gr Hepacidin dicampur dengan 12 butir putih telur untuk 20 kg pakan udang.

    5.    Pemberantasan Hama

Hama yang di maksud adalah ikan-ikan predator pemangsa udang atau pun ikan-ikan lain yang masuk melalui saluran air secara tidak sengaja, karena pada tambak intensif padat tebar udang sangat tinggi, maka dengan masuk nya ikan ke dalam tambak pemeliharaan akan menyebabkan bertambah padatnya populasi di tambak, sehingga kebutuhan akan pakan, Oksigen dan sisa kotoran akan bertambah tinggi. Ada obat khusus yang dapat mengatasi hal ini, yaitu Rotenon 0,5% dengan takaran 0,5 ppm, atau Saponin yang dicampur dengan ampas teh yg telah diambil minyaknya dengan kandungan 10-15%, dengan dosis 10-15 kg/ha.



    

Daftar Pustaka


www.djpt.kkp.go.id/index.../lokasi-desain-tambak.pdf/

Malau T.L.M., (2013), "Sistem Budidaya Intensif", http://www.omtim.com/66/sistem-budidaya-intensif/

Kuderi S., (2014), " PERANAN MUTU AIR DI TAMBAK UDANG INTENSIF", http://nahjoy.com/2014/01/15/peranan-mutu-air-di-tambak-udang-intensif/

Kuderi S., (2014), "MENGUAK PERANAN OBAT-OBATAN DI TAMBAK UDANG INTENSIF", http://nahjoy.com/2014/01/16/menguak-peranan-obat-obatan-di-tambak-udang-intensif/

"TUGAS REKAYASA AQUACULTURE", http://materi-yusrin.blogspot.com/p/tugas-rekayasa-aquaculture_04.html




Thursday, March 27, 2014

BUSMETIK solusi bagi petambak udang kecil menengah

Budidaya Udang Skala Mini Empang plasTIK atau yang biasa di singkat BUSMETIK dan dikenal dengan teknologi BUSMETIK adalah hasil kajian empiris yang di mulai sejak tahun 2009, dilakukan oleh civitas academika Sekolah Tinggi Perikanan. Yang mana teknologi BUSMETIK dijadikan sebagai instrumen pokok untuk program studi Teknologi Akuakultur di STP Kampus Serang Banten. BUSMETIK adalah wujud nyata dari dunia pendidikan dalam berkontribusi langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.




Keuntungan dari teknologi BUSMETIK antara lain :Biaya Murah sehingga terjangkau oleh petambak kecil dan menengah.Pengelolahan tambak menjadi lebih mudah, karena luasan petak menjadi lebih kecil dibanding tambak ekstensif/tradisional.

Dengan luas petak tambak yang lebih kecil maka resiko serangan penyakit menjadi lebih kecil.Dapat diaplikasikan hampir di berbagai tempat, bahkan dapat diaplikasikan di tanah yang "porous".Masa pemeliharaan singkat, karena yg di gunakan adalah bibit vannamei, dimana udang vannamei dapat mencapai size 60 ekor/kg dengan masa pemeliharaan 100 hari.

Dengan FCR 1,3, maka pengunaan pakan jadi lebih efisien.Tidak mengunakan antibiotika. Dalam pembudidayaan udang Vannamei dengan mengunakan BUSMETIK, kepadatan udang minimal 100 ekor permeter persegi.Ada bebrapa komponen penting dalam penerapan teknologi BUSMETIK:Wadah budidaya, Wadah ini dibuat dengan dimensi yang tidak terlalu luas, dan dilapisi dengan plastik jenis High Density Poly Ethlene (HDPE) yang tebalnya 0,5 mm, kedalaman tambak berkisar antara 80-100 Cm.

Media budidaya. yang dimaksud media disini adalah air, dimana air harus memenuhi kriteria secara fisika, kimia, ataupun biologi, bebas dari hama dan penyakit (steril).Biota budidaya. Biota (binatang) yang akan dibudidayakan, harus sehat, berukuran seragam (PL 10-12) dan bebas dari penyakit. mintalah garansi dari penjual bibit bahwa benur terbebas dari penyakit Linkungkan sekeliling. Dalam tehnologi BUSMETIK, kondisi sekliling tambak sangat berpengaruh, olehs sebab itu alangkah baiknya jika tambak dikelilingi oleh ekosistem Mangrove

Setelah petak tambak dikeringkan 1-2 hari dan dibersihkan maka petak tambak telah siap untuk diisi air. Selanjutnya dilakukan pensucihamaan dengan mengunakan kaporit dengan dosis 50-60 mg per liter.Setelah 2-3 hari, air di dalam tambak akan netral dari Clorine dan siap untuk diberikan bakteri probiotik jenis Bacillus.Selanjutnya penambahan Bacillus sesuai dosis diperlukan untuk mempertahankan jumlah bacillus, sehingga mampu mempertahankan kualitas air. Terjadinya kegagalan pada budidaya dengan teknologi BUSMETIK, bukanlah dari substansi teknis tetapi lebih kepada faktor SDM dari pengelola yang kurang konsisten dan kurang displin dalam menerapkan SOP. Teknologi BUSMETIK telah terbukti menghasilkan panen udang dengan maksimal yaitu tiga kali panen dalam 1 tahun. Bahkan teknologi BUSMETIK ini mendapatkan apresiasi dari Bapak Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C. Sutardjo disela-sela panen udang di Serang, Banten, pada tanggal 1 Desember 2013.(seperti diberitakan antaranews.com) 


Daftar Pustaka

Wijaya A., (2013), "Teknologi busmetik untuk tingkatkan produktivitas udang.", http://m.antaranews.com/berita/407567/teknologi-busmetik-untuk-tingkatkan-produktivitas-udang 

Rahayu H.T.,(2013), "Budidaya Udang Skala Mini Empang Plastik (BUSMETIK)", STP press

Monday, March 10, 2014

Udang Vannamei

Udang Vannamei, atau yang sering juga disebut udang putih oleh masyarakat umum, adalah jenis udang yang sedang semarak dibudidayakan oleh masyarakat hampir di seluruh Indonesia, ternyata adalah jenis udang yang berasal dari Pantai Pasifik Barat Amerika Latin, untuk pertama kalinya dikenalkan pada tahun 1970 di Tahiti. Lalu dibudidayakan secara intensif di Hawai (Utara Barat pantai Pasitik), South Carolina (pantai timur Atlantik), Texas (teluk Meksiko), Belize, Nikaragua, Kolombia, Venezuela, dan Brazil.

Sebenarnya udang Vannamie telah diperkenalkan ke benua Asia pada tahun 1978-1979, tetapi baru diperkenalkan secara komersial di Indonesia pada tahun 2001. Dan berdasarkan data dari South East Asian Fisheries Development Centre (SEAFDEC) pada tahun 2005, menyebutkan bahwa Indonesia memiliki 419.282 Ha tambak air payau dan sekitar 913.000 Ha lahan yang berpotensi untuk tambak.
 
Udang Vannamie dengan nama latin Litopenaeus Vannamei, memiliki tubuh yang terbentuk oleh 2 Cabang (biramous), dan tubuh Udang Vannamei berbuku-buku. Kepala udang Vannamie terbentuk dari Antenula, Antena, Mandibula dan dua pasang Maxillae serta tiga pasang Maxiliped. Antenula dan Antena berfungsi sebagai organ sensor. Maxiliped setelah mengalami modifikasi akan berfungsi sebagai organ makan. Terdapat lima pasang kaki dan enam ruas pada badan udang Vannamie, karena carapace udang Vannamei transparan maka perkembangan Ovarium pada betina dapat terlihat.
 
Habitat udang Vannamei adalah dilaut tropis dengan suhu air lebih dari 20 derajat Celcius, mereka bertelur di laut terbuka dan pada Stadia postlarva mereka bermigrasi ke pantai sampai stadia juvenil mereka akan kembali kelaut lagi setelah dewasa dan bertelur lagi disana. Siklus hidup udang Vannamei adalah telur → naupli →mysis → post larva → juvenil → dewasa → telur.

Udang jenis Vannamei semakin diminati untuk dibudidayakan karena udang Vannamei memiliki karakteristik  yang unggul yaitu :
  1. Kemampuan adaptasi yang tinggi, udang Vannamei mampu beradaptasi terhadap suhu, dan salinitas.
  2. Laju pertumbuhan yang cepat pada bulan I dan II
  3. Kelangsungan hidup yang tinggi
  4. Memiliki pangsa pasar yang fleksibel, Udang jenis Vannamei memiliki pasar mulai ukuran kecil hingga besar.

Daftar Pustaka
Adiwidjaya D, dan Erik S. 2007. Aplikasi Pemberian Pakan Buatan Secara Optimal pada Budidaya Udang Windu Intensif Berkelanjutan. http://www.udang-bbbap.com/organisasi/1154-aplikasi-frekuensi-pemberian-pakan-buatan-secara-optimal-pada-budidaya-udang-windu-intensif-berkelanjutan  
Aquaculture Department Southeast Asian Fisheries Development Center (SEAFDEC). 2005. Regional Technical Consultation on the Aquaculture of Penaeus vannamei and Other Exotic Shrimps in Southeast Asia. www.seafdec.org.ph/pdf/P_vannamei.pdf  
Arbeta A. (2013), "cara benar budidaya udang vanami", http://andiarbeta.blogspot.com/2012/09/cara-benar-budidaya-udang-vaname.html
Boone. 1931. Penaeus vannamei. http://www.fao.org/docrep/field/003/ab467e/AB467E04.htm  
Briggs, M, Simon Funge-Smith, Rohana Subasinghe, dan Michael Phillips. 2004. Introductions and Movement of Penaeus vannamei and Penaeus stylirostris in Asia and The Pacific. FAO. Bangkok  
Tigor H.W. 2011, "Budidaya udang Vannamei", http://tigor46.blogspot.com/2011/07/budidaya-udang-vannamei.htm

Thursday, March 6, 2014

Hasil teknologi BUSMETIK

Pada hari Rabu, tanggal 16 Oktober 2013, Presiden RI Bpk. Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu negara Ibu Hj Ani Bambang Yudhoyono bersama Menko Kesra Agung Laksono, Mensesneg Sudi Silalahi, Seskab Dipo Alam, Menteri ESDM Jero Wacik, Menteri Kehutanan Zulkilfli Hasan, Menteri PU Djoko Kirmanto, Mendikbud Muhammad Nuh, Menpora Roy Suryo, Menparekraf Mari Elka Pangestu, dan Ketua KEN Chairul Tandjung, didampingi oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo, melakukan kunjungan ke Pacitan guna meninjau lokasi BUSMETIK ( Budidaya Udang Skala Mini Empang plasTIK) dan melakukan penebaran benih bibit udang Vannamei

http://www.presidenri.go.id/index.php/fokus/2013/10/16/9528.html

Setelah lebih dari dua bulan sejak penebaran benih udang yang dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, maka pada tanggal 25 Desember 2013, benih udang yang ditebar sudah siap untuk dipanen, dengan size 80 ekor per kilogram. Dari total 3 petak tambak seluas ± 600 meter persegi setiap petaknya, udang yang dipanen mencapai berat 5 ton dengan harga jual Rp 70.000/kg maka setiap petak menghasilkan keuntungan ± 60 juta rupiah.

http://pilarpenyuluhan.blogspot.com/2013/12/sukacita-panen-perdana-busmetik-di.html

Tuesday, March 4, 2014

Budidaya udang dengan teknologi Semi Intensif

Seperti telah dijelaskan pada post sebelumnya bahwa udang Vannamei memiliki beberapa keunggulan dibanding udang jenis lainnya, maka pembudidayaan udang Vannamei makin hari makin diminati.
Sesuai dengan judulnya, dipost ini akan dijabarkan mengenai budidaya udang Vannamei dengan teknologi semi intensif.  Pada teknologi Semi intensif  akan dibutuhkan lima buah petak yaitu: 
  1. Petak karantina. Petak ini berfungsi untuk menampung air baru maupun air sirkulasi.
  2. Petak pembesaran. Petak ini adalah petUntukmeliharaan udang sampai dipanen.
  3. Petak Biofilter/ Bioscreen. Dipetak ini dipelihara organisme sebagai pemangsa hama penyakit udang.
  4. Petak treatment.  
  5. Petak Pembuangan Limbah. Petak ini berfungsi sebagai penampungan air limbah dari Petak Pemeliharaan udang.
Pertama tama yang harus dilakukan adalah memperbaiki kualitas tanah, sehingga memenuhi persyaratan sebagai berikut: PH 6,5-7,5 ; kandungan bahan organik 5-12% ; Redok > -50 M.v dan C/N Ratio >11. Untuk itu harus diadakan pengeringan tanah dasar untuk mengoksidasi tanah agar dapat mempercepat penguraian bahan organik dan menguapkan gas beracun. lalu diadakan pengangkatan lumpur dan sisa bahan organik. Pengapuran tanah dapat dilakukan untuk meningkatkan pH tanah dengan dosis 10-20 gram permeter persegi. Pengapuran tanah JANGAN terlalu berlebihan karena kalsium dari kapur dapat mengikat pospat yang akan berakibat pada penurunan kesuburan plankton.

Media air harus dipersiapkan dengan benar, pada petak karantina air dari sungai diendapkan minimal 1 hari lalu air dialirkan ke petak pembesaran dengan disaring mengunakan kasa dengan size 1 mm. Selanjutnya air akan disterilisasi mengunakan kaporit dengan dosis 20-30 ppm. Agar mendapat hasil yang maksimal pengaplikasian kaporit sebaiknya sore hari sekitar pukul 17.00.

Untuk menetralkan kandungan klorin dibutuhkan waktu 2-3 hari, setelah itu dapat dilakukan penebaran probiotik jenis Bacillus sp, Rodobacter sp, dan Nitrobacter sp dengan dosis 1 ppm (yang kepadatan> 10 sel per ml). 

Bersamaan juga dilakukan penumbuhan plankton dengan mengaplikasikan pupuk organik dengan dosis 0,1 ppm serta campuran antara pupuk anorganik urea dan TSP (perbandingan 1:1) dengan dosis 1-3 ppm. dan inokulasi plakton Chlorella sp. Ditandai dengan plankton yang telah tumbuh dengan kecerahan 30-40 cm serta kandungan pospat di air minimal 0,25 ppm, maka benih siap untuk ditebar.

Pada petak Biofilter / Bioscreen, dilakukan penebaran ikan bandeng, nila dan mujahir serta penumbuhan ganggang dan rumput laut sebagai filter feeder, untuk memangsa hama penyakit udang.

Pemilihan benih udang adalah hal yang sangat penting karena benih harus bebas dari infeksi penyakit SEMBV. Cara memilih benih yang baik:

1. Uji visual. benih yang baik memiliki keseragaman > 95% dalam warna dan ukuran (ukuran diatas PL -12, gerakan yang lincah menantang arus, dapat merespon terhadap gerakan dan bersih dari patogen

2. Uji PCR. Untuk mengetahui apakah benih terinfeksi Virus.

Penebaran benih udang dengan teknologi Semi - intensif adalah pada kisaran 15 - 40 ekor per meter persegi. Sesampainya benih udang di lokasi, benih udang harus diadaptasikan dulu terhadap suhu di air Petak, dengan cara, pertama - tama Kantung pengangkut benih diapungkan diatas air di tambak, lalu benih dimasukan ke dalam baskom atau ember, dan ditambahkan dengan air dari kolam sedikit demi sedikit, kemudian benih dimasukan kedalam kolam dengan cara memiringkan baskom. Benih yang sehat akan langsung berenang dengan aktif kedalam tambak, biarkan benih yang tertinggal didalam baskom untuk beradaptasi lebih lama.

PengeloIahan pakan harus di sesuaikan dengan kondisi udang baik dalam ukuran, jumlah, dan frekwensi pemberian. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, prinsip pemberian pakan harus disesuaikan dengan nafsu makan harian. Untuk mengetahui tingkat nafsu makan harian, dapat dikontrol melalui anco yang ditaruh dipetak tambak minimal 4 buah, jumlah pakan yang diletakan pada anco adalah 0,8-1% dari jumlah pakan yang biasa diberikan. Setelah jangka waktu 2-3 jam, jumlah pakan di anco tidak habis, maka pemberian pakan berikutnya dikurangi antara 20-30% demikian sebaliknya jika pakan di anco habis sebelum waktu pengamatan berakhir, maka pemberian pakan ditambah 10-20%. Ukuran dan jumlah pakan yang diberikan disesuaikan dengan udang yang dievaluasi tiap 7-10 hari sekali. Pemberian vitamin dan mineral secara berkala 2 kali seminggu dapat meningkatkan ketahanan udang dari serangan penyakit. Pemberian vitamin C sebanyak 2-3 gram dicampur dengan ikan segar yang dicacah sebanyak 1 kg, kemudian direndam dalam air dengan perbandingan 1 liter air : 1 kg ikan cacah selama 1 jam.

Sumber: Adiwidjaya D, et al, (2008), "Penerapan Teknologi Budidaya Udang Vanamei"




Perlu diperhartikan setiap penambahan air baru, air harus di kondisikan pada petak biofilter selama sedikitnya 2 hari untuk mengantisipasi salinitas yang semakin tinggi. Dan harus diingat bahwa penggantian air maksimal 50% itupun hanya untuk keadaan darurat.

Pengamatan terhadap kesehatan udang harus dilakukan secara berkala. Setiap 7-10 hari harus diadakan pengukuran udang. Inilah beberapa ciri-ciri sehat: bergerak aktif berenang dan melompat saat anco diangkat; respon terhadap arus, cahaya, bayangan dan sentuhan; tubuh bersih, licin, berwarna cerah, dan belang putih yang jelas; tubuh tidak keropos dan anggota tubuh lengkap; kotoran tidak mengapung; Ujung ekor tidak geripis; Ekor dan kaki tidak menguncup; Insang jernih; dan kondisi usus penuh.

Untuk mencegah penyakit usahakan air bebas dari kontaminasi Virus dengan memberi kaporit pada petak Karantina serta filterisasi dengan biofilter; pemeliharaan fitoplankton; dan mmelakukan pengetesan terhadap pH, suhu, salinitas dan kecerahan air.





Daftar Pustaka

Adiwidjaya D, et al, (2008), "Penerapan Teknologi Budidaya Udang Vanamei", Media Budidaya Air Payau Perekayasaan.

Arbeta A. (2013), "cara benar budidaya udang vanami", http://andiarbeta.blogspot.com/2012/09/cara-benar-budidaya-udang-vaname.html




Sunday, March 2, 2014

Budidaya Udang Vannamei

Untuk membudidayakan udang Vannamei dapat dilakukan dengan empat cara yaitu:
1. Sistem tradisional/ekstensif.

2. Sistem Semi Intensif

3. Sistem Intensif


4. Sistem Supra-Intensif



Gambar 2.4 Kolam Supra-Intensif

Semakin intensif sistem yang digunakan maka semakin besar juga investasi yang dibutuhkan, tetapi lahan yang dipergunakan akan semakin kecil.

Contoh untuk tambak tradisional tidak membutuhkan aerator (mesin penghasil gelembung udara) tetapi mereka membutuhkan lahan yang besar sehingga tingkat populasi didalam tambak tidak terlalu padat hanya 2-3 ekor per meter persegi, sedangkan supra intensif dapat mencapai tingkat kepadatan sampai 600 ekor per meter persegi. Jadi untuk memelihara 600 ekor dengan sistem tradisional dibutuhkan tambak seluas 200 meter persegi, yang mana jika lahan seluas 200 meter persegi tadi mengunakan sistem supra Intensif maka benih yang dapat ditebar mencapai 120.000 ekor.

Secara investasi awal sistem yang lebih intensif akan lebih besar, karena dinding dan kedalaman tambak harus kedap air serta tidak rembes, dan tanggul harus kuat sehingga pilihan terbaik adalah dicor, karena pada sistem intensif dibutuhkan biofilter dan bioscreen, tetapi secara hasil yang didapat pada saat panen pun akan berbeda jauh.

Budidaya udang Vannamei dengan sistem yang berbeda-beda akan di posting dengan judul sendiri agar tidak membingungkan para audience di blog ini.

Daftar Pustaka

Tnunay R. (2013), "Budidaya Udang – Bagian 2", http://rinatnunay.wordpress.com/tag/tambak-intensif/

Arbeta A. (2013), "cara benar budidaya udang vanami", http://andiarbeta.blogspot.com/2012/09/cara-benar-budidaya-udang-vaname.html